Friday, October 22, 2010

Di Larung Zaman

Ketika waktu memanggilku
Bahwa kehidupan menyeruku
Tentang cita-cita yang takkan padam
Untukku, keluargaku, dan bangsaku
Aku sambut dengan tangan tergenggam
"Aku datang, aku datang"

Dan betul, jalanan ini berat mendaki
Dan benar, setapak ini licin arasnya
Mereka yang hanya bicara
Takkan kenal sungguh makna upaya
Namun semangatku takkan pernah usai
Maju terus atau kupilih mati
Sebab langkah tak berjalan surut
Sedang lelakon tak berbelok mundur

Jika di depanku ialah cadas keras
Aku akan terus menatah waktu
Karena tak ada obat yang lebih mujarab
Akan menghadapi kesusahan yang sangat
Kecuali aku bekerja lebih keras;
Lebih keras daripada cadas

Oh Rabbi, lindungi aku
Dari tiap khilaf yang tak kusadari
Aku mungkin limbung tersandung
Oleh niatku yang samar berbelok
Oleh lidahku yang halus bercabang
Dan hatiku kusam tapi tak kotor
Maka ingatkanlah aku dengan kasih-Mu
Meski aku tak penuh suci

Bandung, 23 Oktober 2010 jam 3:25

Tuesday, October 12, 2010

Farewell

Ketika matahari terbenam
Biarkan aku tenggelam
Untuk menyaksikan batas antara
Cahaya dan gulita
Tutupkanlah rasa getir
Di lidah yang memerah
Lepaskanlah rasa lelah
Di bulir kehidupan yang patah

Apa yang kubawa
Takkan kusimpan
Apa yang dianggap beban
Jadikanlah hilang

Jalanan entah tersisa berapa panjang
Bukankah tiap belokan punya kisikan
Bisikan yang ingin kupenuhi
Sembunyi-sembunyi
Untuk berjalan bukan karena selalu tujuan
Tapi di depan masih ada keinginan

Oh, betapa aku terlalu jauh bersimpang
Dari mula-ku aku bertitik
Hingga garisku yang tak lagi lurus
Jika ujungku adalah tempatku berawal
Tuhan, izinkanlah aku mensucikan niatku


Bandung, 12 Oktober 2010 jam 17:31
*when it's time to remember

Thursday, August 26, 2010

Hari Ini...

Hari ini,
Aku bertemumu mentariku
Untuk seterusnya
Kita semoga tak terlepas

Hari ini,
Kita menasbihkan rasa rindu
Memeluk doa
Di langit luas

Ada saat dimana kita berada
Dalam jarak
Di hati
Ataupun di mata

Namun hari ini,
Aku bahagia
Cinta.

Bandung, 27 Agustus 2010
Untuk istriku tersayang ^^

Monday, May 31, 2010

Pieces & Scratches

I talked to the wind to carry the rain, and it says no. It's just too salty, the wind says. So, I talked to the thunder to burn the ruins. Again, thunder says no. It's already scorched, thunder says. And feeling so exhausted catching the storm, I come to the nest where I belong to. And so it's there. I faced the mirror hangs in the wall. Strangefully, it took my offer. In that breezing night, the shadow shaked my hand, and now I go to to the pond for counting days. I can see myself walks in the far away. I want to scream, but the voice can't go through that damn high wall.

I can see demons in this outer world, they smile and laugh, but who am I to judge the goodness that flees away. How I now admit that hole that keeps me falling. The place that I can't run away, The chamber of the cursed. Oh, I tried my best, did I? Did I?

For the things I cannot say, I put it in the deep well. For that it can be found by the truly one. It's the last piece that remains clean.

Sunday, November 01, 2009

Titik Kerinduan

Saat kau ada, aku tak sadar betapa berartinya dirimu bagiku; aku lalai mendengarkan pintamu dan abai terhadap keceriaanmu. Terlarut dalam duniaku sendiri yang berpusar menyekapku. Dan ada waktu-waktu yang terlewatkan, jeda-jeda dimana aku tiada ada di sisimu; sibuk akan keinginanku yang egois. Oh betapa aku menyuguhimu cinta nan terpaksa.

Namun sekarang kau tak ada di sini...dan aku mengenal kembali sesungguh-sungguhnya sepi. Dan ruang kosong di hatiku merindukanmu sepenuhnya. Aku mengerti sekarang, engkaulah tempatku bersandar dari kelemahanku; anugerah Tuhan yang diberikan tuk menutupi kekuranganku. Aku hanyalah separuh nafas; dan engkaulah yang mengutuhkanku.

Tunggulah aku; di ujung dunia kita semoga bersua. Di langit biru kan kujemput dirimu. Simpanlah keping rindumu padaku, dan kujaga rasa di hatiku. Meski waktu tak izinkan aku mendekatimu sekarang; aku akan berjuang. Kokohkanlah jiwaku yang rapuh ini sehingga kakiku tegap melangkah menujumu.



Bandung, 2 November 2009 jam 12:36

Monday, July 20, 2009

Kata Bintang

Kemarin, aku menangis
Untuk semua air mata yang pernah kusimpan di dada
Dan aku tak bisa berhenti
Untuk sekian lama
Tanpa ada seorangpun datang membelaiku

Dan aku tahu, takdirku terpisah sendiri
Jalanku menerawang tanpa ada teman
Dan aku terdampar di pulau tak bertuan

Bintang berkata padaku,
Janganlah putus asa, masih ada jalan
Tidak semua hal seburuk yang kau pikirkan
Namun, bintang tidak mengerti
Aku bukanlah berputus asa
Sebab aku tahu aku akan berjuang
Aku hanya takut bahwa semuanya terjadi
Saat semua sudah terlambat

Sebab, kehidupan bukanlah sandiwara
Skenarionya tidak bisa diulang
Paragrafnya tidak bisa diperbaiki mudah
Jika Tuhan berkehendak
Harapan dan usaha hanyalah sia belaka

Hanya aku takut, bintang,
Engkau bersinar jika lampuku sudah padam


Somewhere;when clouds hanging on my mind

Wednesday, April 29, 2009

Ujung Tursina

Di persimpangan kehidupan,
Aku mempertaruhkan segalanya
Dan keberanian; apakah akan mewujudkan harapan
Atau hanya remuk terbuang di tumpukan sampah

Dan ketakutan menggodaku dengan bayangan
Tentang kegagalan
Serta kehinaan
Sekali ini, aku melawan sungguh rasa takut
Melenyapkan bisikan-bisikan di keremangan
Lewat sepenuh raga dan kata.

Namun ketakutan selalu menggedor pintu jiwaku
Sebab pertaruhan ini tentang seutuh kehidupan
Bahwa kegagalan --meskipun mengandung makna--,
Ialah penderitaan yang sulit tertanggungkan
Aku tak ingin melewatinya.
Aku tak ingin merasainya.

Namun, semua adalah urusan takdir
Dan aku manusia yang lemah kuasa
Jika jalan itu kemudian memang tiada terelakkan
Kan kutemui Ia di ujung Tursina,
Di bayang akhir pencarian.

--
Bandung, 30 April 2009
"Sedu di relung sepi"

Wednesday, February 11, 2009

Perempuan

Perempuan,
Kehidupan berlangsung setiap hari, dan semuanya bermakna sama. Sepi! Seberapapun aku mencoba lepas dari jeratan yang menghimpit, aku tak pernah bisa lari darinya. Seberapapun lidahku menyangkal, kebenaran sesungguhnya bersemayam di relungku. Kesepian yang kemudian menggerogoti imanku dan mimpi-mimpiku. Betapa keheningan tak pernah bisa diusir dari hatiku; menjadi tamu yang menjajah hatiku sehingga yang tersisa hanyalah dingin dan keras.
Lalu kau hadir. Kau; dan senyummu, dan candamu, dan kebaikanmu, dan keagunganmu, dan seluruh pesona yang terpancar yang menenggelamkan aku dalam hanyutan perasaan. Kau membuat langitku biru, malamku menjadi emas; menjelmakan pelangi yang hadir di angkasaku. Sementara yang kutahu selama ini hanyalah hitam dan putih, kau mengajariku warna-warna yang tak pernah kupahami sebelumnya. Kau benar-benar membolak-balikkan halaman kehidupanku dan mencampuradukkan rasa yang terbenam dalam di jiwaku.

Perempuan,
Kemudian, di titik waktu, kitapun bertemu. Oleh ketidaksengajaan yang disengajakan dalam skenario Tuhan yang sungguh misteri. Kita berkenalan dan Tuhan memberkati keterusteranganku dengan kesediaanmu. Dan langkah kita pun diayunkan bersama. Kita bermunajat pergi menuju surga-Nya melalui ketundukan akan sunnah-Nya. Kita kemudian terbang ke bintang-bintang; bermimpi membangun rumah mungil sebagai istana tempat kita mengabadikan sang waktu, masjid tempat kita memuja Sang Khalik, dan lingkaran kita membesarkan buah kasih kita kelak.
Namun, kita kemudian tahu, langkah kita tidaklah serasi. Dan ada diam di antara kita yang mencoba menyelami perbedaan kita. Kita pun kemudian tahu ada tembok yang mensekat kebersamaan kita. Kita adalah hakikatnya dua keping jiwa yang hendak direkatkan takdir untuk menjadi satu. Dan usaha mempersatukan untaian jiwa kita tidaklah mudah. Dan terkadang kita tersandung oleh kebodohan-kebodohan yang kita ciptakan sendiri. Namun, kita tidak menyerah sebab kita percaya bahwa manusia belajar untuk menjadi lebih baik. Sebab kita percaya bahwa ini adalah ujian yang membuat ikatan kita nantinya akan semakin kuat.

Perempuan,
Aku percaya, cinta membawakan rasa. Namun, yang sejati melahirkan arti. Dan aku percaya, kaulah sang arti yang dimaksudkan Tuhan untukku. Melalui dirimu, aku menziarahi makna kesungguhan, pengorbanan, dan keikhlasan.
Kelak, Insya Allah kita akan menjadi satu jiwa. Denyut jantungmu akan menjadi detak nyawaku. Dan nafasku akan menjadi penghidupanmu. Kita mungkin hanyalah manusia biasa yang berkodrati khilaf. Kita mungkin tak sesempurna selayaknya malaikat. Namun diikat janji yang sungguh suci, kita berharap dapat menyempurnakan satu sama lain, dan menyucikan hati kita dari noda-noda yang pernah menggoresnya.Wallahu’alam.


--
Kusimpan surat ini di sini tanpa terkirimkan padamu sekarang. Sebab, engkau mungkin enggan mendengar janji-janji. Biarlah kata-kataku ini kupatri dalam sembunyi di lubuk nadi. Dan kan kujadikan sisa hidupku sebagai pembuktiannya.


(when silence stands between us)
Bandung, Februari 2009.

Friday, February 06, 2009

Yang Sejati

Cinta hadir memberi rasa.
Namun yang sejati hadir memberi arti :

Tentang pengorbanan, bukan tentang keinginan.
Tentang pemberian, bukan tentang permintaan.
Tentang kesungguhan, bukan tentang gelora.

Dan jikalau yang sejati lahir, jangan sia-siakan ia. Sebab itulah amanat-Nya, untukmu : satu belahan jiwamu. Satu yang melengkapi nafasmu, satu yang kau ajak berbagi, satu yang mesti kau puja sepanjang masa. Sebab dia-lah ibadahmu pada Tuhanmu; kasihmu akan menjadi pahalamu, mesramu akan menjadi amalanmu.

Wallahu'alam

Bandung, 7 Februari 2009 jam 9:32

Tuesday, February 03, 2009

Ikhlas

Telah kuikhlaskan semuanya,
Meski mungkin sedih berkunjung menyapa
Dan ketakutan memasung mimpiku
Sakit mendekapku erat, oh sungguh erat.


**
Di persimpangan jalan,
Rinduku bernilai dosa
Cinta mematung bisu
Kata-kata merayukan bisa

Di persimpangan jalan,
Hikmah menandakan pahala
Itikad baik mengulurkan amal
Takwa menjadikan digdaya

Lalu aku sendiri
Untuk mengerti
Bahwa sepi
Mungkin masih berarti

Bukan aku pergi;
Aku berkhalwat untuk mencari
Kebijaksanaan sejati
Dan kedamaian suci

**
Lalu aku mengerti
Ikhlas bukanlah berhenti
Aku taruhkan hati untuk-Mu Rabbi
Kuatkanlah aku tuk tetapan-Mu nanti

Persaksikan Tuhan, bahwa aku pun berjuang
Dan semoga usahaku membuat-Mu berkenan
Jagalah aku; dalam lindungan-Mu
Agar langkahku tak lagi terjungkal batu


Wallahu'alam
Bandung, 4 Februari 2009 jam 7:12

Sunday, February 01, 2009

Bayang-bayang(2)

Bayang-bayang pun ingin berjuang
Untuk sebuah pengakuan
Tak hanya melesap hilang
Di tanah kesepian

Biar kuusir curiga
Dengan doa yang terdiam malu
Biar kubersihkan noda-noda jiwa
Hingga wadahku bisa menggendongmu

Aku hanyalah aku, yang terasing liar
Yang mungkin tak layak memuja rembulan
Namun keterbatasan selamanya bukanlah halangan --
Melainkan anugerah; sebab kita berkodrat pembelajar!



Bandung, 2 Februari 2009 jam 9:27

*Perenungan, penyendirian, penempaan*

Saturday, December 20, 2008

Kerinduan

--untuk awal mula


Hasrat sungai.
Kuberitahu kau tentang rindu sungai pada lautan biru
Walau bersua, hasrat itu tetap ada di situ
Meski gelombangnya bergejolak tenang
Namun arahnya berazzam pasti, penuh keyakinan
Dari hulu, riak sungai berkecipak
Berkejaran menuju batas labuhan
Di muara, mereka bertukar rasa. Untuk sementara,
Namun terik panas memisahkan mereka, lagi-lagi.
Dan di ranah waktu, titik-titik air terangkat tinggi
Buih-buih itu pergi menuju angkasa
Dan mereka bergelayutan di awan-awan
Meski tertahan angin darat di temaram malam
Namun rembulan hadir mengisyaratkan petunjuk.
Dan gemawan mega mencari jalan pulang kembali ke lautan,
Bersikukuh turun menuruni lembah terjal pegunungan
Oh, betapa rindu ini mengalir tak ragu

Impian malam.
Kuberitahu kau tentang rindu malam pada rembulan
Saat mentari pergi undur diri
Meninggalkan semak pepohonan yang memuja cahyanya
Malam kemudian datang tanpa pelita.
Terpenjara sepi yang menyiksa,
Sang malam terus bermimpi pada sekerjap jelita
Dan rembulan datang menebarkan terang
Menawarkan kemewahan kehidupan
Di antara hari-hari terhasut remang
Saat purnama belumlah tiba
Terbungkus cengkeraman bayang-bayang bumi
Dengan sabar, malam menunggu jeda
Jika mendung datang bergelung, menyanggul langit
Menabirkan satu-satunya harapan menyilaukan
Malam menjelma menjadi pungguk yang berdiam di tengah hutan,
Dan menangis muram kehilangan di antara cucuran hujan
Yang isakannya takkan pernah terdengar
Oh, betapa ini rindu terkoyak pilu

Lelamun hutan.
Kuberitahu kau tentang rindu pepohonan pada hujan
Selewat sengat membakar di kemarau gersang
Hujan datang membasuh lamunan hutan
Membasahi batang tua yang mengelupas
Dan pepucuk tunas mekar menghijaukan,
Di ujung-ujung cabang yang menghadap ke langit
Seakan menyalami tetes hujan yang turun ke tanah.
Lalu rona bebungaan berwarna-warni semerbak
Bak insan mempelai menyambut pengantin datang
Melenggak-lenggok memamerkan pesona
Dan laksana menemani kegembiraan
Jengkerik, katak, dan kumbang menyuguhkan simphoni alam
Bernyanyi riang mengabarkan karunia Tuhan
Oh, betapa rindu ini menghaturkan kebahagiaan

Doa insan.
Kuberitahu kau tentang rindu manusia pada pencipta-Nya
Di fana, walau mata tak bersapa,
Ada doa yang terangkum di dada
Pada sujud, di kepala yang merunduk
Terumuskan oleh bait-bait tasbih yang bergulir khidmat
Ada cinta menggelegak menemui pemiliknya.
Untuk tempat kembali;
Awal yang sejati, akhir yang abadi.
Air mata insan berderai perlahan tak sia
Sebab itu adalah tangis suka cita
Kalaulah berat beban tak sanggup ditahan
Ya Rabbi, Dia-lah yang Maha Mendengar keluh kesah
Dan jika sejumput gembira berkunjung selintasan
Maka kepada-Nya lah sajak syukur dipersembahkan
Oh, betapa ini rindu teramat rindu

Awal rindu.
Dan cukupkah kau tahu sekarang,
Rinduku padamu?


Bandung, 2 September 2008

Friday, September 12, 2008

Bayang-bayang

Seberapapun keras aku berjuang
Aku hanyalah bayang-bayang

Biarkan ku tenggelam
Di muram malam

Di bulan mati
Paling sunyi

Bandung, 12 September 2008 jam 16:04

Friday, August 08, 2008

[Untuk Seorang Sahabat]

Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan. Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan mudah pudar olehnya.

Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi semerbak, dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di jalan berlubang kehidupan -- dan kau ada di sana sebagai sahabat yang memahami segala keluh kesah. Atas kebaikan yang mungkin tidak kau sadari, oleh sekedar canda yang membuat hidup ini lebih memiliki arti; menjauhkan rasa nyeri sedari.

Dan sahabat, jika apa yang kita miliki memang persahabatan yang tulus, maka ada tali silaturahmi yang mesti kita jaga. Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan membawa kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada seorang sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.

Kado ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini. Hanya sekeping tanda mata agar kau tak lupa, bahwa ada – ada bahagia untuk menjadi seorang saudara.

--
Words are all I have
So, I give them to you as my gift :)

Tuesday, May 20, 2008

Renungan

[Tanya :]

Jika manusia memang tidak sempurna
Pincang oleh kecacatan yang halus tersamar
Dan kau kecewa menyaksikan kebenaran
Bisakah kau percayai cinta?

Jika kegagalan mengalahkan kemungkinan
Awan menghadang bergelung di pagi yang mestinya riang
Dan kau tenggelam di bayang-bayang suram
Bisakah kau percayai cinta?

Jika hasrat tak terpuaskan selalu
Cita-cita tidak mampu mengangkatmu ke langit
Dan kau terperangkap dalam rantai tak terputuskan
Bisakah kau percayai cinta?

Jika masa muda terenggut usia
Menyisakan kerutan di ujung mata
Tanpa permisi merampas keindahan rupa
Bisakah kau percayai cinta?

Jika kelelahan menyingkirkan akal sehat
Membuatmu membangun tembok tinggi
Dan kau terasing di kamar kosong
Bisakah kau percayai cinta?

Jika kata-kata manis menjadi masam oleh kehidupan
Luntur dibasuh badai yang datang kemudian
Romantika menjadi hampa atas nama rutinitas
Bisakah kau percayai cinta?

Jika ketakutan mengurung dirimu di sudutan
Oleh jarum tajam kesakitan yang menusuk benakmu
Langkahmu tertahan tertatih di lorong ilusi
Bisakah kau percayai cinta?

Jika suatu hari yang terburuk datang
Skenario ujian Tuhan disuguhkan di ruang realita
Dan Dia bertanya tentang kesungguhan
Bisakah kau percayai cinta?


[Jawab :]

Mungkinkah kau pergi berpaling,
Jika perahumu tertambat erat

Mungkinkah kau menyerah tanpa perjuangan
Jika mimpi hanyalah yang kau miliki

Mungkinkah kau buang harapan,
Jika kau hidup bersamanya

Mungkinkah kau peduli pada apa yang tampak,
Jika kau mampu melihat jauh ke dalam

Mungkinkah kau kunci jiwamu,
Jika kau titipkan kepingan hatimu

Mungkinkah kau cabut kata-katamu,
Jika janjimu telah diberikan

Mungkinkah ada keraguan
Jika jalanmu diterangi keikhlasan

Mungkinkah kau menolak menerima,
Jika kau sudah memilih.


--
Choices that we make
Consequences we all take

Bandung, 20 Mei 2008

Tuesday, February 12, 2008

Wajah-wajah Dunia

1.
Tahukah engkau mengapa angin bertiup sedih
Menyiulkan deritan lara di sela halimun masa
Ditemani dengking nyamuk memecah sepi
Di kemuning waktu yang bulirnya meranum tua

Mencoba raih setitik berkas pelita
Namun tertempa hembusan dingin
Lilin kecil itu hampir meliuk padam
Menyisakan angan rembulan di kolong kuburan

2.
Tahukah engkau mengapa macan berburu sendiri
Di padang rumput, di kubangan mangsa dan pemburu kejam
Benar atau salah, kesemuanya samar akan nurani
Bertarung, bertahan hidup ialah tentang naluri

Demi penghujung hari yang masih misteri
Sedalam luka menyimpan mozaik makna
Jejak bercak darah mengisahkan riwayat tekad
Untuk hausnya hasrat terselip di celah kalbu

3.
Tahukah engkau mengapa langit berwajah mendua
Jikalah terang bernama siang
Sedang malam hadir di singgasana sepi
Di bawah cahaya berdiam bayang-bayang

Siang dan malam bercumbu berkejaran
Tapi tak pernah hadir beriringan
Sewujud rupa terpilih mewakilkan rasa
Yang lain bersembunyi di balik jeruji


Jawab :

Jika kau tak temukan jawabannya
Datanglah padaku dan kusampaikan cerita
Sebab aku berteman dengan mereka
Di sini. Di sarang sanubari tak terpeta.



Bandung, 16 Januari 2008

Wednesday, September 05, 2007

A Dream's Journey

Di pelukan hangat yang tak pernah kudapat
Di sentuhan lembut yang pergi terenggut
Kisahku dimulai bercumbu sendu
Mencari arti hidup bersandar secuil redup

Di relung ragu aku menatap cemburu
Pada tegar rembulan bersinar terang
Walau mentari pergi sembunyikan diri
Rembulan datang menantang malam

Tergerak sesak, aku berlari di antara retak
Lalu jauh menyepi mensucikan hati
Menuntaskan ilmu, merundukkan kalbu
Bersua mimpi yang tiada bertepi

Dan mimpi itu bersemi
Mengisi hari di tajamnya duri
Secercah harap membuyarkan senyap
Membisikkan arti di jiwa yang mati

Kulalui lorong sempit. Walau sakit!
Untuk impian yang hadir berselang
Di tengah kota, kusapa makna
Di antara lara, di serambi noda

Menaiki tangga, aku mencapai nirwana
Sendiri. Aku pergi.
Mendaki. Jalan janji.
Di gerbang surga, kuketuk rasa

Tapi...
Sepi
Meski...
Tinggi

Lama kutermenung di menara agung
Jiwaku lapar, lalu aku turun ke selasar
Kembali, ke tanah bumi
Berlaku sujud, untuk mewujud

Namun aku tersandung di ujung palung
Di pekat paling pekat
Di hasrat tak tersurat
Oleh takdir yang terus ikut hadir
Gelap itu kembali menghalangi waktu
Dan pegangan tangan tak lagi erat tergenggam
Kabut kemelut menyisakan sejumput takut
Tentang simpangan jalan mensesatkan

Walau remang aku masih terus berjuang
Kepada impian yang menyesapkan tujuan
Malam dan pagi, hanya mimpi itu yang menemani
Memendarkan cahaya samar, di atas kanvas pudar

--
Memoar of A Journey
Wondering how it ends
Bandung, 21 Agustus 2007 jam 07:58

Tuesday, July 31, 2007

Tentang Puisi

Kali ini saya tidak ingin menulis puisi, tetapi ingin berbagi tentang puisi dan makna.

Banyak orang kebingungan bagaimana menulis puisi. Sebagian bertanya kepada saya bagaimana menulis puisi yang indah. Tidak ada pakem yang pasti menurut saya. Hanya jika kita menyukai keindahan dan bermaksud menuangkannya di atas guratan pena, puisi pun tercipta. Apakah puisi itu kan jadi indah atau tidak, itu tergantung seberapa besar kita menghayati proses penulisannya.

Ada beberapa hal yang diperlukan untuk menulis sebuah puisi.

(1) Keterampilan berbahasa
Keterampilan berbahasa bisa dilatih dari berbagai macam cara. Dapat dengan cara membaca puisi orang lain, dapat juga dengan menonton film yang bertipe melankolis, atau dapat juga dengan mendengar lagu (tentu lagu “Who Let The Dogs Out” atau semacamnya tidak bisa dijadikan referensi).
Puisi yang baik memiliki pilihan kata yang tepat. Untuk puisi yang berapi-api, kata-kata yang menggelora lebih bagus sementara puisi cinta umumnya memiliki kata-kata penuh roman. Semakin sering kita membuat sebuah puisi, semakin terampil kita berbahasa.

(2) Momen
Momen adalah tuas yang menggerakkan inspirasi. Momen terjadi dengan cepat, tetapi efeknya dapat bertahan lama. Begitu sebuah momen tiba (entah kesedihan, kegembiraan, kecewa, dll), seorang penyair yang pandai akan menyambutnya dengan sikap optimis. Seorang penyair yang baik akan peka terhadap sebuah momen. Itu sebabnya penyair adalah golongan orang yang umumnya sensitif. Jika mereka melihat seorang nelayan tua mencari ikan, mereka akan mengambil hikmahnya. Jika dirundung kemalangan, mereka akan bertanya tentang masa depan. Jika kebahagiaan tercipta, mereka melukis perasaan haru di kanvas kertas.

(3) Tekad
Tekad adalah unsur terakhir sebuah puisi. Banyak orang mengira puisi tercipta begitu saja saat sebuah momen terjadi. Padahal, tidak semua penyair dapat berlaku seperti itu. Sebagian puisi saya ditulis dalam kurun waktu yang lama (yang paling lama adalah sekitar 2 bulan). Ini terjadi karena muncul kekosongan inspirasi. Kata-kata menjadi beku berjam-jam. Jika saat seperti itu terjadi, saya memutuskan untuk menunda penyelesaian sebuah puisi. Biasanya, saya akan membaca puisi yang belum jadi itu berulang-ulang sampai saya menemukan bait-bait penghubung yang tepat.

Secara pribadi, saya menyukai puisi kontemplatif yang maknanya cukup jelas. Saya tidak terlalu menyukai puisi yang terlalu sulit (seperti sebagian puisi Sapardi Djoko Damono). Dalam puisi, saya lebih suka mengungkapkan sebuah pertanyaan ketimbang pernyataan. Ini dikarenakan saya menjadikan puisi sebagai sebuah media pencarian.

Saya juga lebih menyukai puisi tersamar yang variasi maknanya cukup interpretatif. Itu sebabnya, terkadang beberapa orang salah mengartikan puisi yang saya buat. Jika saya menulis sebuah perjalanan hidup, saya mungkin akan membuat penggambaran cerita tentang seorang pelaut. Jika menggambarkan mimpi yang sulit, saya mungkin akan menggunakan bintang sebagai perumpamaan. Jika mengungkapkan cinta, saya lebih suka menggunakan metafora atau eufimisme. Saya kurang suka puisi cinta yang bergaya “kasar” yang terlalu banyak mengumbar kalimat “aku cinta kamu” atau penggunaan kata “kasih”, “rindu”, “sayang” yang berlebihan. Buat saya, puisi kasar seperti itu hanya layak ditampilkan di film India atau sinetron murahan Indonesia.

Semua puisi yang saya tulis memiliki momennya sendiri. Saya selalu mengingat apa sebabnya saya menulis sebuah puisi. Puisi menjadi sebuah catatan harian tersandi yang orang tidak akan mudah mengerti saat membacanya.

Namun, tentu saja setiap orang punya gaya puisinya masing-masing. Yang paling penting dari sebuah puisi adalah bukan tentang berapa banyak orang menganggapnya indah. Melainkan, seberapa dalam maknanya bagi kita sendiri.

Itu saja tentang puisi....Selamat menulis puisi!

Monday, July 23, 2007

Sekuntum Mawar Muda







Jika aku menunggu mekarmu penuh
Akankah harummu mampu kurengkuh
Di sini --menanti, kuncupmu tumbuh
Sembari cemas ini tak jua mau luruh

Di bawah semburat putihmu nan teduh
Anganku mengembara mengkhayal jauh
Sepucuk kata terkulum, akankah jatuh
Di antara desah resah penuh kisruh

O mawar muda nan ayu bersahaja
Dalam panas mentari, elokmu menebarkan makna
Menepiskan duka, menghantarkan bahagia
Menarik segenap alam tuk hening memuja

Bagai bidadari, kau mewujud dalam kembang
Mengalirkan manis madu pada sejuta kumbang
Meski badai bertiup, kau tetap tegak tak tumbang
Ketegaranmu seakan mengapus ragu dan bimbang

Di penghujung musim berselimutkan mega,
Bermain-main engkau dengan angin kelana
Dan sang bayu terus saja nakal nekat menggoda
Malu-malu memuji indahmu, angin berkata

Sepoi-sepoi bercanda di antara kelopak lentik
Semilirnya menitipkan embun sepercik
Sebagai sajak rayuan yang lembut menggelitik
Padamu, mawar muda, O yang teramat cantik

Namun musim ini mesti segera berganti
Mengikuti kemana bintang gemintang menunjuk tinggi
Sang angin pergi, berjanji dalam diam tuk kembali
Meski masa depan tak memberi jawaban pasti

Jauh di sini, aku terus menorehkan rindu
Tentang sekuntum mawar di bawah langit biru
Dan aku hanya bisa menerawang membisu
Sebab waktu tak sedang berpihak padaku

Di suatu masa, saat aku kembali datang
Masihkah kau di sana, di hamparan padang
Tak terpetik, hidup bebas dengan riang
Menghirup cucuran hujan bersama ilalang

Dan jikalau akhirnya takdir kemudian mengijinkan
Kuundang kau ke tanahku di sebrang lautan
Kugenggam benihmu, kubawa pulang dalam hembusan
Kutanam, dan selamanya kurawat di tengah taman

--
A Silent Promise
As For Now, Time is Not My Side
Bandung, 28 Juni 2007

Tuesday, July 10, 2007

"Wahai, Apakah itu Cinta?"

Aku memandang nyalang, pada manusia lalu lalang
Kulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tangan
Kata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan mega
Mangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentara
Namun di sini, berdiri aku dalam keraguan
Tak mengerti dan terus bertanya :
Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?
Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?
Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,
Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?

Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnya

Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknat
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Birahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweran
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa

Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa

Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang

Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya

Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana

Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
Cinta bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
Cinta adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah cinta.
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta

Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai

Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati.


Bandung, 12 April 2007
A quest for A question